nurkholismadjid

Seleksi Beasiswa LPDP

Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) adalah program beasiswa untuk pembiayaan pendidikan tingkat lanjut pada program magister dan doktor di perguruan tinggi dalam dan luar negeri yang dibiayai oleh pemerintah Indonesia dengan memanfaatkan Dana Pengembangan Pendidikan Nasional (DPPN). Program ini dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sehingga lebih dikenal dengan nama beasiswa LPDP. Pendaftaran beasiswa ini dibuka sepanjang tahun dengan proses seleksi dilakukan sebanyak empat kali dalam setahun, yaitu pada bulan Maret, Juni, September dan Desember. Jadi, tidak ada kata terlambat untuk mendaftar.

Seleksi Administrasi

Seleksi awal dari pendaftaran beasiswa program magister dan doktor LPDP adalah seleksi administrasi. Proses ini berlangsung secara online di website pendaftaran online LPDP. Aplikasi diterima sepanjang tahun, dan akan dilakukan penarikan data pendaftaran pada batas akhir penerimaan aplikasi di tiap periode seleksi. Selain mengisi formulir, ada beberapa dokumen yang perlu diunggah:

  1. Ijazah dan transkrip nilai pendidikan terakhir
  2. Surat pernyataan
  3. Surat ijin dari perusahaan bagi yang sudah bekerja
  4. Surat rekomendasi
  5. Sertifikat bahasa Inggris
  6. Letter of Acceptance dari universitas yang dituju bagi yang sudah mendapatkan
  7. KTP dan pas foto

Selain itu ada beberapa essay yang harus ditulis:

  1. Rencana studi
  2. Peranku bagi Indonesia
  3. Sukses Terbesar dalam Hidupku

Saya submit pendaftaran online untuk program magister luar negeri pada tanggal 21 Agustus 2014, tepat satu hari sebelum batas penarikan data untuk periode September. Mungkin karena banyak deadliners seperti saya, website pendaftaran online pada tanggal-tanggal akhir penarikan data pendaftar untuk periode September saat itu sangat sulit diakses. Kadang dokumen tidak berhasil diunggah, bahkan kadang halaman web-nya sama sekali tidak muncul. Oleh karena itu lebih baik submit pendaftaran jauh sebelum tanggal penarikan data pendaftar pada suatu periode agar submit pendaftarannya bisa lancar.

Seminggu setelah batas akhir penarikan data, email hasil seleksi administrasi dikirimkan ke semua pendaftar. Beberapa hari kemudian email undangan wawancara dikirimkan kepada masing-masing pendaftar yang lulus seleksi administrasi. Alhamdulillah saya lulus. Email tersebut berisi informasi waktu dan tempat pelaksanaan seleksi wawancara dan Leaderless Group Discussion (LGD) sesuai dengan kota yang dipilih ketika mendaftar. Untuk kota Bandung (kota tempat seleksi pilihan saya), proses seleksi dilakukan selama dua hari. Ada peserta yang mendapatkan jadwal wawancara dan LGD dalam satu hari, ada juga yang terpisah di hari selanjutnya. Akan tetapi semua peserta wajib hadir pada hari pertama untuk melakukan verifikasi dokumen. Saya beruntung bisa mendapatkan jadwal wawancara dan LGD dalam satu hari, di hari pertama, jadi bisa ambil cuti hanya satu hari saja. LGD pada pukul 11.15 sampai 12.00, kemudian di hari yang sama juga jadwal wawancara pada pukul 16.45 sampai 17.20.

Verifikasi Dokumen

Proses verifikasi dokumen dimulai pada pukul 08.00 WIB pada hari pertama pelaksanaan seleksi. Saat itu saya sampai di tempat seleksi (Unpad Dipati Ukur) sekitar 30 menit sebelum prosesnya dimulai, dan peserta sudah banyak yang hadir memenuhi ruang tunggu. Kursi yang disediakan panitia tidak cukup untuk semua peserta, jadi banyak yang duduk di tangga atau bahkan berdiri.

Pukul delapan lebih beberapa menit proses verifikasi dimulai, dan nama saya baru dipanggil pada pukul sepuluh. Ya, dua jam saya duduk menunggu dengan manis. Untungnya proses verifikasi dokumen saya berjalan lancar karena dokumen saya sudah lengkap sesuai persyaratan yang diminta.1 Proses verifikasi berlangsung tidak sampai lima menit, saya hanya ditanya mengenai letter of acceptance saja, apakah sudah unconditional atau belum.

Leaderless Group Discussion

Pukul 11.10, lima menit sebelum jadwal, kelompok LGD saya sudah dipanggil ke ruang diskusi. Tetapi diskusinya baru dimulai pada pukul 11.25, sepuluh menit lewat dari jadwal, karena ternyata tadi dipanggil hanya untuk bersiap-siap di depan ruang diskusi.

Masuk ke ruang diskusi, dua orang penilai sudah menunggu kami di dalam. Satu per satu peserta diskusi dipanggil untuk duduk di kursi yang telah ditentukan. Kemudian salah satu dari penilai menjelaskan aturan dari LGD ini. Kami diberikan waktu 45 menit untuk berdiskusi, dengan hasil akhir suatu rekomendasi solusi dari suatu permasalahan. Permasalahannya dapat dibaca pada selembar kertas berisi artikel yang akan dibagikan ke masing-masing peserta. Alur diskusinya diserahkan kepada kelompok, dan ketika waktu habis, rekomendasi solusi permasalahan hasil diskusi harus sudah ditulis dalam selembar kertas untuk diserahkan kepada penilai.

Setelah penilai menjelaskan aturan, masing-masing peserta diskusi diberikan selembar kertas yang berisi materi diskusi. Kami diberikan waktu untuk membaca terlebih dahulu, dan jika perlu mencatat poin-poin penting yang akan disampaikan di dalam diskusi. Artikel yang menjadi materi diskusi kami adalah mengenai permasalahan dalam pendidikan anak usia dini di Indonesia. Tugas kami adalah merumuskan rekomendasi solusi atas permasalahan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pada awalnya kami pikir penilai akan memberikan aba-aba jika waktu membaca dan mempersiapkan catatan sudah habis untuk memulai diskusi. Ternyata, bukan hanya alur diskusi, tetapi pengelolaan waktu juga diserahkan kepada kelompok. Salah satu dari kami memulai diskusi, dan satu orang lagi mengajukan diri untuk menjadi notulen. Karena materinya memang tidak memancing adanya polarisasi argumen, jadi diskusi pun berlangsung seperti pembicaraan antar teman saja. Tidak ada adu argumen sama sekali, hanya ada usulan solusi dari masing-masing peserta dan yang lainnya menambahkan jika ada kekurangan. Kami berhasil menyelesaikan diskusi tepat waktu dengan hasil selembar kertas berisi rekomendasi solusi permasalahan.

Selama kami berdiskusi, kedua penilai tidak berhenti menuliskan catatan di dalam notebook mereka. Saya tidak paham faktor apa saja yang menjadi penilaian, karena kami tidak diberikan penjelasan sama sekali mengenai hal ini. Tapi yang bisa saya sarankan adalah, jangan mencoba-coba untuk menjadi pemimpin diskusi, karena diskusi ini bernama "Leaderless Group Discussion". Jika Anda mempunyai ide tentang alur diskusi, sampaikan ide Anda sebagai saran. Jika saran Anda diterima oleh peserta lainnya, jangan memberikan kesan mengatur jika ada peserta lain yang menyimpang dari alur diskusi yang sudah disepakati. Setidaknya itulah yang saya tangkap.2

Diskusi kami selesai pada pukul 12.15. Masih ada waktu untuk mempersiapkan diri untuk wawancara pada pukul 16.45.

Wawancara

Selesai makan siang dan sholat, saya kembali ke gedung tempat seleksi pada pukul 15.30 untuk berjaga-jaga jika wawancara peserta sebelum saya berlangsung lebih cepat dari jadwal. Ketika saya sampai di ruang tunggu, orang-orang yang berkumpul di sana saat itu sudah mulai berkurang tidak seramai pagi tadi.

Di dalam ruang wawancara, ada tujuh meja wawancara yang masing-masing terdapat tiga orang penilai dan seorang peserta. Ketujuh meja diberi nomor dari 1 sampai 7 sebagai nomor kelompok wawancara. Dua orang penilai adalah dosen ahli, seorang lainnya adalah psikolog. Pagi tadi, tujuh peserta pertama untuk masing-masing kelompok wawancara dipanggil secara bersamaan ke dalam ruang wawancara. Meskipun peserta pertama masing-masing kelompok masuk bersamaan, untuk peserta kedua dan seterusnya tidak demikian, karena durasi wawancara masing-masing peserta tidaklah sama. Maka "beruntunglah" peserta yang mendapatkan kelompok wawancara dengan penilai yang tidak terlalu banyak bertanya karena waktu tunggu mereka menjadi tidak terlalu lama.3

Saya mendapatkan jadwal wawancara terakhir untuk kelompok 4 pada hari itu. Kelompok wawancara lain begitu tepat waktu bahkan banyak yang lebih cepat dari jadwal, tetapi kelompok 4 ini setiap pesertanya keluar dari ruangan lebih lama dari yang lain. Bahkan ketika jam sudah menunjukkan pukul 16.45, jadwal saya untuk wawancara, masih ada dua orang peserta sebelum saya di kelompok 4 yang belum dipanggil.

Setelah tragedi mati listrik pada pukul 17.00 yang membuat waktu wawancara dibatasi oleh kapasitas baterai notebook penilai,4 akhirnya dipanggilah nama saya untuk masuk ke ruangan pada pukul 17.30. Hampir satu jam ngaret dari jadwal. Karena otak saya sudah blank dan semua jawaban yang sudah saya persiapkan menghilang entah ke mana, saya masuk ke dalam ruangan dengan pasrah. Apapun pertanyaan yang diajukan para penilai akan saya coba jawab secara spontan.

Masuk ke ruangan, saya langsung menuju meja nomor 4 dan duduk di depan para penilai. Setelah mengucapkan salam, saya kira penilai akan meminta saya untuk memperkenalkan diri. Tetapi ternyata tidak, salah satu dari mereka hanya menanyakan nama, daftar ke universitas mana, program apa, dan langsung menanyakan pertanyaan lainnya tanpa meminta saya memperkenalkan diri. Pertanyaan yang diajukan kepada saya antara lain adalah:

  1. Apa topik Tugas Akhir saya ketika S1 dan apakah akan dilanjutkan topik yang sama untuk S2
  2. Apa manfaat yang bisa dirasakan masyarakat Indonesia dari topik yang akan saya perdalam nanti
  3. Apakah saya akan pulang kembali ke Indonesia selesai kuliah di luar negeri
  4. Hal apa yang membuat saya yakin bisa lulus kuliah dengan hasil yang memuaskan dan tepat waktu
  5. Apa saja kegiatan saya ketika kuliah S1 selain belajar
  6. Hal tersulit apa yang pernah saya hadapi dalam hidup, dan bagaimana cara saya mengatasinya
  7. Pertanyaan pamungkas dari psikolog: "Apakah Anda berniat untuk menikah?" *jreng jreng*

Kurang lebih seperti itu pertanyaan dari para penilai yang saya ingat. Hanya lima belas menit durasi wawancara ini. Sebelumnya, peserta lain banyak yang bilang ada sesi pertanyaan dengan bahasa Inggris, tapi selama wawancara saya tidak pernah ditanya ataupun diminta menjawab dengan bahasa Inggris.

Pengumuman

Tanggal 18 September teman saya mengirimkan pesan Whatsapp berisi link pengumuman di website LPDP. Saya pikir itu hanya pengumuman pemanggilan seleksi wawancara yang lalu. Ternyata itu adalah pengumuman hasil seleksi wawancara, enam hari lebih cepat dari jadwalnya yaitu 24 September. Langsung saya cari nama saya di tabel daftar peserta yang lulus seleksi. Dan saya temukan nama saya tercantum di nomor 115 pada bagian program magister luar negeri.

Alhamdulillah..

Tahap selanjutnya adalah mengikuti Program Kepemimpinan. So excited :)


  1. Jangan lupa untuk bawa KTP. Walaupun tidak dituliskan di email sebagai dokumen yang harus dibawa, KTP adalah hal pertama yang diminta petugas verifikasi ketika peserta dipanggil ke meja verifikasi.

  2. Salah seorang di kelompok yang seringkali mengingatkan peserta lain mengenai alur diskusi yang sudah disepakati tampaknya tidak masuk dalam daftar peserta yang lulus seleksi.

  3. Walaupun pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa "keberuntungan" adalah suatu hal yang bersifat relatif terhadap waktu (:

  4. Untungnya para penilai tidak menggunakan notebook satu ini yang kapasitas baterainya bisa tahan sampai 12 jam tanpa di-charge ¯\_(ツ)_/¯